
Malam kedua Ramadhan 1428 H saya sempet tarawih di
Mesra (Mesjid Raya) Bogor, tumben-tumbenan jalanan Jakarta hari itu lengang banget, masih keburu maghriban di Bogor malah, oh.. indahnya Jakarta kalo tiap hari bebas macet.
Anyway, singkat cerita tampillah pak ustadz di mimbar (namanya saya gak inget, diri ini memang paling susah nginget nama orang), dengan berapi-api --walau tidak mengeluarkan api-- beliau mengajak kaum muslimin untuk menjadikan bulan puasa kali ini sebagai momen untuk memperbaiki diri. Kalimat beliau yang paling saya ingat adalah, "
Kalau di bulan puasa saja ketika Syeitan-Syeitan dikerangkeng kita tidak mau beribadah, bagaimana dengan bulan-bulan di luar Ramadhan? Kalau di bulan puasa saja kita tidak mampu menghindari maksiat, apalagi di bulan-bulan lainnya dimana Syeitan-Syetan tak henti-hentinya menggoda kita?" Begitu kira-kira ceramah yang beliau sampaikan.
Memang betul apa yang dibilang pak ustadz tadi, saat ini Allah mengikat syeitan-syeitan sehingga tidak dapat menggoda manusia. Berarti ini suatu kesempatan besar bagi kita, gak ada musuh yang menghalang-halangi, nggak ada Iblis yang menjerumuskan kita kepada kemaksiatan. Inilah kesempatan bagi kita untuk meningkatkan ibadah dan memperbaiki diri.
Sempat terpikir, kok bisa ya saat semua syeitan dibelenggu tapi kemaksiatan tetap saja ada? Orang-orang dengan seenaknya makan, minum, ngudud (ngerokok) di tempat umum tanpa malu-malu. Kalau jaman dulu pas siang-siang di bulan puasa orang makan atau ngopi di pinggir jalan cuma keliatan kakinya doang karena warungnya dihalangi kain bekas spanduk, sekarang sih nggak lagi, terang-terangan, kagak tahu malu,
teerrlaaluu... (begitu kata bang haji Rhoma). Tempat-tempat hiburan malam tetep aja rame tuh, penuh malah. Meski perda membatasi aktifitas hiburan malam 'cuma' sampai jam 2 pagi, tapi tetep aja apa yang mereka lakukan jauh dari ajaran Islam. Dan mestinya di antara para pengunjung tempat hiburan malam ada kaum muslimin.
Lalu kok bisa hal itu terjadi sementara syeitan sang penggoda nggak bisa berkutik? Apakah syeitan tetep dapat menggoda manusia dari jarak jauh layaknya para napi yang bisa mengendalikan bisnis narkoba walau dari dalam penjara? Pernah seorang ustadz menjelaskan --lagi-lagi saya nggak inget ustadz mana, apalagi namanya,
blank sama sekali nggak inget-- bahwa syeitan memang dibelenggu dan tidak bisa menggoda manusia, tapi ingat! Syeitan sudah berhasil 'mendidik' jiwa-jiwa manusia di luar bulan Ramadhan sehingga perilaku dan kecenderungannya nggak jauh dengan sifat syeitan. Jadi walaupun sang 'guru' sedang dikerangkeng, tapi murid-murid didikannya ini tetap menunjukkan perilaku 'guru'-nya tadi, ya si syeitan iblis itu. Makanya jangan heran kalau di bulan Ramadhan masih banyak orang-orang yang berbuat maksiat dan meninggalkan kewajiban ibadah,
Na'udzubillah min dzalik! Hiii!!
Kembali ke ceramah tarawih ustadz tadi, mudah-mudahan kita tergolong orang yang bisa memanfaatkan momen bulan Ramadhan ini untuk merenung, memperbaiki diri dan beribadah lebih getol lagi. Ya Allah, bantulah hamba-Mu ini untuk senantiasa istiqomah di jalan-Mu. Amiin...